Oleh : Fauzan Hakim, S.Ag
Musirawas Utara-Di Indonesia, fenomena perundungan atau bullying semakin marak terjadi, terutama di lingkungan pendidikan. Ditahun 2025 kasus perundungan (bullying) pelajar kembali terjadi di Kabupaten Musi Rawas Utara. Sebelumnya, peristiwa perundungan juga terjadi dengan siswi SMP Desa Embacang Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Muratara, pada 18 Oktober 2025 lalu. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak untuk belajar dan berkembang, akibat bullying malah berubah menjadi kondisi yang memperihatinkan bahkan menakutkan.
Dampak negatif dari perilaku bullying juga sangat bervariasi, terdapat gangguan kesehatan fisik, masalah kesehatan mental, dan bahkan munculnya individu yang menjadi pelaku bullying itu sendiri. Oleh karena itu, penting untuk mencegah terjadinya perilaku bullying salah satunya melalui pendidikan karakter.
Pendidikan karakter sangat penting untuk membangun moralitas, empati, dan rasa tanggung jawab sosial pada anak-anak sejak usia dini. Namun, seringkali nilai-nilai tersebut terabaikan, ketika prestasi akademik lebih diutamakan dari pada nilai etika dan adab. Beragam faktor yang mempengaruhi terjadinya kasus bullying. Agar lebih jelas bagaimana bullying bisa terjadi, bagaimana pula dampak dan cara pencegahannya? Ikuti ulasan berikut!
Faktor pemicu
Diantara faktor pemicu bullying sangat beragam, meliputi pola asuh orang tua yang tidak sehat seperti kurang perhatian atau bisa saja karena dampak kekerasan di rumah tangga. Bisa juga dipengaruhi pelaku kurang empati, ingin berkuasa, populer, atau bahkan “pelaku juga pernah jadi korban” atau karena masalah psikologis.
Bukan hanya itu, terjadinya Bullying bisa saja karena pengaruh lingkungan sosial seperti pengaruh teman sebaya, media sosial yang memuat konten kekerasan, atau kurangnya edukasi dan pengawasan orang tua dan guru disekolah. Bisa juga karena rendahnya mengenai empati dan karakter yang kemudian menciptakan siklus di mana pelaku merasa tidak berdaya atau ingin mendominasi, sementara korban rentan, karena kurangnya dukungan atau rasa percaya diri.
Meskipun bullying disebabkan oleh berbagai faktor kompleks, sistem pendidikan yang dinilai “bobrok” atau kurang efektif, dapat menjadi salah satu pemicu utamanya, terutama karena kegagalan menanamkan nilai-nilai karakter dan menciptakan lingkungan yang aman.
Dari sejumlah faktor yang dikemukakan, menarik bagi penulis menyampaikan alasan pemicu bullying di lingkungan sekolah yaitu terdapat sistem pendidikan yang bobrok seperti kurikulum pendidikan yang masih mengadopsi paham sekularisme yang merupakan akar permasalahan pemicu bullying.
Secara umum, beberapa aspek kelemahan sistem pendidikan yang berpotensi memicu bullying adalah:
Minimnya Pendidikan Karakter.
Salah satu kelemahan utama sistem pendidikan saat ini adalah kurangnya penekanan pada pendidikan karakter yang efektif. Ketika kurikulum lebih bersifat teoritis dan hanya berfokus pada aspek akademik, penanaman nilai-nilai penting seperti empati, toleransi, rasa tanggung jawab sosial, dan etika berinteraksi menjadi terabaikan. Hal ini telah menyebabkan pergeseran nilai. Terbukti adanya perubahan mata ajar.
Fakta ini menguat, ketika Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM memandang salah satu faktor yang menyebabkan lemahnya rasa nasionalisme dan karakter berbangsa adalah adanya pengaburan nilai-nilai Pancasila melalui Pendidikan Kewarganegaaan (PKn). Pengaburan tersebut dilakukan, antara lain, dengan mengubah nama mata ajar PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) menjadi Pendidikan Kewarganegaraan atau PKn. Misalnya, dalam mata pelajaran PKn, pokok bahasan nilai nasionalisme dan moral mendapat porsi yang lebih kecil ketimbang pokok bahasan tata negara yang malah justru mendapat porsi besar.
Sehingga, saat mengajar dewan guru di sekolah tersebut mengaku mengalami kesulitan, karena kurikulum yang ada hanya memungkinkan pengembangan karakter berupa hapalan (kognisi), lalu mengabaikan afeksi atau pertumbuhan mental dan moralitas. Hal menunjukkan memang terlihat ada “reduksi”(pergeseran) pendidikan Pancasila, yang ditengarai dilakukan secara by design.
Secara spsifik, pemicu bullying pada sistem pendidikan adalah :
Lingkungan Sekolah yang Tidak Aman dan Minim Pengawasan
Lingkungan sekolah yang penuh tekanan, kurang pengawasan dari tenaga pendidik, atau tidak memiliki aturan yang jelas dan ditegakkan secara konsisten akan membuka ruang bagi terjadinya bullying. Pelaku merasa bebas melakukan intimidasi ketika tidak ada konsekuensi yang tegas.
Ketidakmerataan Kualitas dan Tenaga Pendidik
Penyebaran tenaga pendidik yang tidak merata, baik dari segi jumlah maupun kualitas, juga berperan. Guru dan staf sekolah yang tidak terlatih atau tidak peka terhadap dinamika sosial di sekolah mungkin gagal mengidentifikasi, mencegah, dan menangani insiden bullying secara efektif.
Fokus Berlebihan pada Prestasi Akademik
Sistem yang terlalu kompetitif dan hanya mengukur keberhasilan berdasarkan nilai akademik dapat meningkatkan stres dan kecemburuan antar siswa, yang pada akhirnya memicu perilaku agresif, termasuk bullying.
Respons yang Tidak Tepat terhadap
Kekerasan
Ketika institusi pendidikan gagal merespons laporan bullying dengan serius atau cenderung menutupi kasus demi menjaga reputasi, hal ini mengirimkan pesan bahwa perilaku tersebut dapat ditoleransi, sehingga memperburuk masalah.
Jadi secara keseluruhan, sistem pendidikan sekular tidak mampu menciptakan ruang yang aman dan suportif, serta gagal menanamkan moral dan perilaku positif, berkontribusi signifikan terhadap suburnya perilaku bullying di kalangan pelajar.
Kurikulum yang berbasis sekulerisme merupakan akar masalah
Dari sejumlah faktor yang mempengaruhi timbulnya bullying yang dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa akar masalahnya adalah karena kurikulum kita masih berbasis sekularisme. Dan sistem pendidikan ala Barat ini, cenderung mengenyampingkan nilai-nilai moral dan etika berbasis agama, yang berpotensi menyebabkan krisis adab dan meningkatnya perilaku agresif di kalangan siswa.
Poinnya, Bullying menjadi persoalan berulang, karena memang sekularisme menjadi asas dari berpikir dan berbuat bagi generasi saat ini. Dan ideologi atau cara dan arah pandang seseorang yang menganut paham sekularisme, bisa dipastikan akan membentuk pribadi yang kehilangan arah dan tujuan hidup.
Kesimpulan dan saran :
Dari uraian yang dikemukakan dapat disimpulkan, secara keseluruhan, tindakan bullying dipengaruhi oleh minimnya pengawasan orang tua, keluarga dan masyarakat terhadap anak. Juga faktor lingkungan yang tidak sehat, perilaku buruk teman sebaya termasuk media sosial yang sering memuat konten kekerasan.
Dalam perspektif pendidikan, faktor menjadi pemicu bullying adalah lemah sistem pendidikan melalui kurikulum yang berbasis sekulerisme yang berdampak pada minimnya pendidikan karakter, termasuk kurangnya pengawasan guru serta lambannya penanganan masalah korban bullying.
Untuk itu penting dilakukan pencegahan bullying melalui pendekatan terpadu yang melibatkan keluarga, orang tua, sekolah, dan masyarakat dan guru dengan fokus pada penguatan pendidikan karakter yang berbasis agama Islam, melalui penanaman nilai, etika dan moral peserta didik.
Saran penulis, penting juga menghidupkan kembali Penataran P4 dan mata ajar Pendidikan Moral Pancasila (PMP), sebagai salah satu upaya untuk penguatan nilai, etika dan moral anak seperti dizaman orde baru yakni Materi P4 dan PMP ditahun pertama masuk atau masa orientasi sekolah. Penguatan pendidikan moral termasuk nilai-nilai agama dapat membentuk sikap dan perilaku positif pada siswa yang secara langsung menangani akar masalah bullying.
Terakhir, Kasus bullying tidak akan bisa selesai hanya dengan seruan revolusi mental, seperti yang digaungkan, atau melalui upaya pendidikan karakter bahkan kampanye anti-bullying. Sebab akar permasalahannya ada pada sistem kehidupan sekularisme yang memang tidak sesuai dengan fitrah manusia. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi mendasar dan menyeluruh untuk menyelesaikan secara tuntas permasalahan bullying. Tentu saja melalui pengamalan ajaran agama yang baik serta pengamalan nilai-nilai Pancasila sebagai pondasi menyelesaikan problematika bangsa, termasuk bullying.
Wallahu’alam bisshawwab
Penulis adalah lulusan 1999 Fakultas Ushuluddin UIN Raden Fatah Palembang













