MUSIRAWAS, SUMATERA SELATAN – MITRA KEADILAN |
Setiap 17 Agustus, seluruh rakyat Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. Bendera merah putih dikibarkan, upacara digelar, dan berbagai perlombaan diadakan untuk memeriahkan hari bersejarah ini. Namun, di balik kegembiraan dan euforia perayaan, tersembunyi sebuah pertanyaan mendasar: Benarkah kita sudah merdeka seutuhnya?
Fauzan Hakim S.Ag, seorang penulis, mengajak kita untuk merenungkan makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Menurutnya, kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, melainkan juga bebas dari belenggu ketidakadilan, kemiskinan, dan penindasan. Sayangnya, realitas yang terjadi saat ini justru jauh dari cita-cita luhur para pendiri bangsa.
Ironi di Balik Kata “Merdeka”
Kata “merdeka” berasal dari bahasa Sansekerta “maharddhika” yang berarti kekayaan, kemakmuran, dan kekuasaan. Kemerdekaan seharusnya mencerminkan situasi di mana setiap individu mendapatkan haknya, kebutuhan hidupnya terpenuhi, serta mendapat perlindungan dan keadilan di mata hukum.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) semakin merajalela, menyisakan senyum getir bagi mereka yang masih terhimpit. Di satu sisi, gedung pencakar langit berdiri megah dan mobil mewah berseliweran. Di sisi lain, masih banyak rakyat yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, anak-anak putus sekolah, dan kesulitan mengakses layanan kesehatan.
Fauzan mengingatkan kita pada peristiwa tragis yang pernah terjadi, seperti tukang ojol yang meninggal karena kelaparan di Medan atau seorang pria di NTT yang nekat menikam perutnya karena tidak mampu membeli beras. Kejadian-kejadian ini menjadi bukti nyata bahwa kesejahteraan dan keadilan masih menjadi mimpi yang jauh dari kenyataan bagi sebagian besar rakyat.
Problematika lain yang tak kalah memilukan adalah penegakan hukum yang sering kali tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Rakyat kecil yang mencuri karena lapar dengan mudahnya dipenjara, sementara para koruptor yang merugikan negara miliaran rupiah bisa tetap tersenyum di depan kamera.
Media, yang seharusnya menjadi pilar demokrasi dan penyalur informasi yang jujur, kini sebagian telah berubah menjadi corong kekuasaan. Mereka menyiarkan narasi yang menguntungkan pihak tertentu dan mengabaikan suara-suara kritis dari rakyat. Budayawan Goenawan Mohamad pernah mengingatkan, “Pers yang tunduk pada kekuasaan akan mematikan demokrasi, karena rakyat kehilangan hak untuk tahu yang sebenarnya.”
Fauzan Hakim menyimpulkan bahwa kita masih dijajah, bukan oleh bangsa lain, melainkan oleh bangsa sendiri. Ia mengutip pesan Bung Karno, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.”
Meskipun situasi tampak suram, selalu ada harapan. Fauzan mengajak seluruh elemen bangsa untuk berpikir jernih dan berani menyuarakan kebenaran. Ia menekankan bahwa perubahan besar tidak selalu datang dari ruang rapat para penguasa, tetapi sering kali lahir dari kesadaran rakyat yang bersatu dan berani menolak ketidakadilan.
Al-Qur’an dan hadis juga mengingatkan umat Muslim untuk menyuarakan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Karena seperti kata pepatah Inggris, “Kejahatan akan merajalela ketika orang-orang baik diam.”
Pada akhirnya, Indonesia adalah milik kita semua. Masa depannya ada di tangan rakyat, bukan segelintir elite. Kemerdekaan sejati akan terwujud bila rakyat bersatu, bergerak, dan bersuara. Barulah saat itu, Indonesia benar-benar bisa disebut sebagai bangsa yang merdeka.
Penulis adalah alumni lulusan S1 Fakultas Ushuluddin UIN Raden Patah Palembang tahun 1999












