
Lubuk Linggau, Mitrakeadilan.com
Sabtu, 29/09/2023
Pelayanan Rumah Sakit Siti Aisyah (RSSA) Kota Lubuk Linggau dinilai buruk. Akibatnya banyak pasien tidak mendapatkan pelayanan medis yang optimal. “Banyak pasien yang mengeluhkan tindakan dan pelayanan medis,” ujar Sekretaris LSM Pemerhati Pembangunan Daerah (PPD) Fauzan Hakim,S.Ag.,kepada wartawan Sabtu(29/09).
Hal itu menyusul banyaknya laporan atau pengaduan dari masyarakat terkait pelayanan kesehatan di Kota LubukLinggau yang akhir akhir ini diduga bermasalah.
“Kemarin anak saya pernah berobat di RSSA. Dalam pelayanannya dirasakan kurang baik, berbeda dari direktur sebelumnya.” kata Fauzan menirukan ungkapan seorang keluarga pasien yang pernah ia jumpai yang minta namanya dirahasiakan.

Buruknya pelayanan RSSA dirasakan juga oleh Fauzan. Hal itu diketahui ketika ia mengobati anaknya yang terkena DBD. Dimana pelayanan dan tindakan oknum pelayanan medis yang terkesan bertele dalam menangani pasien. Dari lamanya waktu proses pendaftaran hingga proses penanganan medis lainnya.
Tak hanya itu sikap dan cara bicara oknum Sekretaris inisial DS, juga telah menambah rasa kecewa. Pasalnya oknum tersebut telah bersikap kasar dan arogan saat ia mempertanyakan alasan lambannya penanganan oleh pihak Rumah sakit.
Ia mengatakan pihak rumah sakit Siti Aisyah mulai dari oknum pegawai, oknum dokter dan oknum perawat diduga abai dan bertele dalam melakukan tindakan medis dari awal hingga kepulangan pasien. Bahkan arogan dalam menanggapi keluhan pasien dan keluarga. Mereka juga sering mengulur waktu ketika melayani permintaan pasien,Ujar Fauzan.
Selain itu lanjut Fauzan juga terlihat dari sedikitnya kunjungan dokter pada pasien rawat inap, serta lamanya pelayanan oleh tenaga kesehatan (apoteker dan petugas laboratorium). Selain itu, pasien juga mengeluhkan kurangnya penyediaan obat terhadap penyakit yang diderita pasien.
Tindakan oknum dokter dan perawat yang tidak sesuai dengan penyakit yang diderita pasien saat memberikan obat juga menjadi persoalan yang mesti dijawab oleh pihak rumah sakit atau terkait lainnya.
Ia mencontohkan ketika melakukan pengobatan di rumah sakit tersebut. Dari keterangan dokter diketahui anaknya terkena DBD, hingga demam panas dan penyakit sering muntah. Dari tindakan medis yang dirasakan pasien hanya diberikan obat DBD dan obat turun panas saja. Sementara obat penahan muntah sama sekali tidak diberikan. Hal ini bisa dibuktikan dengan apa yang dialami anaknya sejak dari awal perawatan hingga dianggap selesai oleh dokter yang secara terus menerus mengalami muntah-muntah dan susah makan.
Penyakit susah makan dan sering muntah baru bisa dihentikan setelah dilakukan pengobatan di luar RSSA. Ini juga menjadi persoalan. Katanya.
Persoalan lain yang ia alami ialah rumitnya birokrasi administrasi, bertele serta mahalnya harga obat menambah daftar dari keluhan keluarga pasien.
Hal itu dirasakan Fauzan ketika meminta surat keterangan Dokter guna keperluan terkait izin sang pasien yang belum bisa mengikuti perkuliahan. Begitu sulit dan menghabiskan waktu berjam-jam lamanya. Padahal sekedar minta tanda tangan. Oknum pegawai dan perawat terkesan lamban, seolah tak perduli dan abai.
“Saya mengajukan permohonan pukul 8:00 WIB, surat keterangan itu baru diserahkan pada jam 17:00 WIB, Ini jelas merugikan,” ujar Fauzan.
Pihak rumah sakit beralasan surat keterangan tersebut belum bisa diberikan karena harus menunggu dokter. “Hal seperti ini sangat merugikan karena menghambat urusan,”sesalnya.
Atas permasalahan tersebut, maka ia meminta pihak terkait dalam hal ini Wali Kota LubukLinggau untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja dan pelayanan RSSA yang diduga tidak sesuai Standar Pelayanan dalam menjalankan tugas. Selain itu juga ia meminta kepada pihak berwenang untuk mengaudit terkait penggunaan anggaran oleh pihak rumah sakit.
“Saya minta pihak terkait dalam hal ini Bapak Wali kota LubukLinggau tanggap dalam persoalan ini, jangan sampai terulang dan menimpa pasien lain.”tegasnya.
Kedua, masyarakat patut mempertanyakan terkait penggunakan anggaran oleh pihak RSSA, pasalnya boleh jadi rendahnya kualitas pelayanan bisa disebakan cara dan proses dalam pengelolaan keuangan atau anggaran yang boleh jadi diduga bermasalah.
“Ini harus dilakukan audit, mengingat kualitas pelayanan bisa saja berpengaruh dari cara mengelolah anggaran yang boleh jadi diduga tidak transparan. Cara yang paling tepat adalah lakukan audit terhadap RSSA,”pintanya.
Kepala Rumah Sakit Siti Aisyah, Dr.Dwiana Soedijono, Sabtu (29/09) ketika dikonfirmasi melalui sambungan telepon selular mengenai perihal tersebut, belum memberikan tanggapan. Kendati secara berulang dilakukan pemanggilan masih belum juga menjawab padahal nomor handphone yang dihubungi aktif. (Red.h)












